Senin, 18 Mei 2026
Selasa, 09 Desember 2025
Transformasi Digital Pendidikan: Antara Ilusi Kemajuan dan Realitas Sekolah
Senin, 08 September 2025
Trik Membaca Efektif_Tidak Mudah Lupa
Senin, 16 Juni 2025
Sabtu, 03 Mei 2025
SEKOLAH BUKAN LAUNDRY
Yang masih anget dibeberapa warung-angkringan, kayaknya seru jadi bahan obrolan sambil minum Kopi, wedang jahe anget, sambil cocol pentol, terus ngelantur mikir... Sekolah saiki kok rasane diposisikan kayak laundry ya?
Anak² masuk, ditaruh.... keluar harus kinclong. Rapi, pinter, sopan, hafal Pancasila, bisa ngaji, nilai sempurna, dan sing penting ini laku kerja. Wah, kayak mesin cuci premium sing bisa nyalonin anak sekalian, biar nyenengke kalo dilihat.
Padahal, sekolah itu ya bukan tempat nyuci karakter. Lha wong karakter itu digodok soko rumah, direbus karo teladan, dikukus karo kasih sayang, digoreng karo obrolan setiap malam sebelum tidur.
Tapi nggak dikit lho, wong tua saiki mikir: "Pokoknya anakku tak sekolahkan di tempat paling mahal, paling bagus, paling modern... beres!" Lha terus dia piye? Kayak nyerahke motor rusak ke bengkel trus ditinggal dolan. Lha motor bisa diservis, tapi anak? Anak itu jiwa, Mas. Bukan sparepart.
Terus terang jujur ya, sing kudu sekolah ki ya kita kabeh. Wong tua kudu sekolah kehidupan. Belajar nerima, belajar sabar, belajar jadi teladan. Belajar ngomong sing empuk, bukan cuma nyuruh dan ngomel. Karena anak belajar bukan dari teori, tapi dari cara kita hidup.
Nah Guru juga lho, ojo puas mung jadi “penggugur tugas”. Datang – ngajar – pulang – setor nilai. Yo wes, kayak barang² pajangan. Tapi yen guru ngerasa dirinya juga orang tua, meskipun bukan biologis, barulah kita hadir sebagai cahaya. Kata Mbah Guru esensi mendidik itu yg terpenting justru mentransfer rasa, cinta, dan makna, makna tentang kehidupan.
Sekolah harusnya jadi taman, seperti apa yg dicontohkan Ki Hajar Dewantara (Taman Siswa), bukan laundry. Sekolah sebagai tempat anak tumbuh, bukan dibentuk. Tempat anak mencari jati diri, bukan dipaksa seragam. Anak kita itu bukan semacam produk, jika cacat (gagal) trus dibuang. Bukan juga obyek proyek. Tapi proses tumbuh yg panjang, kadang mbulet, tapi penuh harapan.
Jadi, yo ayo... bareng² belajar terus dadi wong tua. Belajar jadi guru. Belajar jadi manusia.
Kopi angetmu wis adem, tapi obrolan kita kudu tetep anget...
Jumat, 02 Mei 2025
Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Mulyono Malik, M.Pd.
Pengawas Madrasah
Kementerian Agama Kabupaten Gresik
APA ITU DEEP LEARNING ?
Deep Learning dalam arti harfiah adalah pembelajaran
mendalam. Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran, bukan kurikulum
baru, karena kurikulun nasional
(kurikulum merdeka) masih berlaku. Pembelajaran
mendalam menjadi sangat populer setelah Mendikdasmen RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. menyatakan
penerapan pendekatan ini pada pembelajaran di sekolah/madrasah.
Dalam
perspektif Pendidikan di Indonesia, pembelajaran mendalam didefinisikan sebagai
pendekatan pembelajaran yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana
belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan
melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan
terpadu.
Berbeda
dengan istilah yang umum digunakan dalam ranah kecerdasan buatan (AI), dalam
konteks pendidikan Deep Learning menekankan pemahaman konsep secara
mendalam, penguasaan kompetensi, serta keterlibatan aktif siswa dalam proses
pembelajaran.
Secara
garis besar, pola pembelajaran mandalam dapat terilustrasikan sebagai berikut :
3 ELEMEN UTAMA DEEP LEARNING
Pendekatan Deep Learning dalam pendidikan yang diusulkan oleh Mendikdasmen terdiri dari tiga elemen utama, yaitu Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning. Masing-masing elemen ini memiliki peran penting dalam membangun pengalaman belajar yang lebih mendalam dan bermakna bagi siswa.
1. Meaningful Learning (Pembelajaran
Bermakna):
Meaningful Learning menekankan
bahwa proses belajar harus memiliki makna dan keterkaitan dengan kehidupan
nyata siswa. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya menghafal informasi,
tetapi juga memahami konsep yang dipelajari dan dapat menghubungkannya dengan
situasi sehari-hari.
Contoh:
ü Dalam pelajaran Fikih, guru
mengajak siswa praktik langsung tata cara wudhu sambil menjelaskan makna
kesucian dalam persiapan salat.
ü Dalam Pelajaran IPA, saat belajar tentang ekosistem, siswa tidak hanya menghafal jenis-jenis rantai makanan, tetapi juga menganalisis dampak deforestasi terhadap keseimbangan ekosistem dan mencari solusi untuk menjaga lingkungan.
2. Mindful Learning (Pembelajaran Sadar dan Aktif)
Mindful Learning menekankan
kesadaran penuh dalam proses belajar. Siswa didorong untuk secara aktif terlibat dalam pembelajaran, berpikir
reflektif, serta memiliki niat dan motivasi internal untuk mengembangkan
pemahaman serta keterampilan mereka.
Contoh:
ü Dalam pelajaran Al-Qur'an Hadits,
guru mendiskusikan hadis tentang keutamaan jujur, lalu meminta siswa mengaitkan
dengan pengalaman jujur mereka di sekolah atau rumah.
ü Dalam pembelajaran sejarah, siswa tidak hanya membaca buku teks, tetapi juga melakukan riset, berdiskusi, dan membuat presentasi tentang peristiwa sejarah dari berbagai sudut pandang.
3. Joyful Learning (Pembelajaran yang
Menyenangkan dan Memotivasi)
Joyful Learning menekankan bahwa
pembelajaran harus menjadi pengalaman yang menyenangkan dan menggugah minat
siswa. Dengan suasana belajar yang positif, siswa lebih termotivasi untuk terus
mengeksplorasi pengetahuan dan meningkatkan pemahaman mereka.
Contoh:
ü Dalam pelajaran Agama Islam, guru
menggunakan permainan kuis interaktif tentang rukun iman dan rukun Islam untuk
memperkuat pemahaman siswa dengan suasana belajar yang ceria.
ü Dalam pelajaran matematika, guru menggunakan permainan dan simulasi interaktif untuk membantu siswa memahami konsep aljabar dengan cara yang menyenangkan.
FONDASI FILOSOFIS DEEP LEARNING
Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya "4
Olah" dalam pendidikan, yaitu olah hati (etika), olah pikir (literasi),
olah rasa dan karsa (estetika, kreativitas, inovasi), dan olah raga
(kinestetik). Filosofi ini menekankan pentingnya mengembangkan seluruh aspek
kepribadian siswa agar menjadi manusia yang berintegritas dan berdaya saing. Dalam
penerapan Deep Learning semua pihak yang terlibat saling menghargai dan
menghormati dengan mempertimbangkan potensi, martabat dan nilai-nilai
kemanusiaan yang meliputi ;
1. Olah pikir
Merupakan proses pendidikan yang berfokus pada pengasahan akal budi dan
kemampuan kognitif, seperti kemampuan untuk memahami, menganalisa, dan
memecahkan masalah.
2. Olah hati
Adalah proses pendidikan untuk mengasah kepekaan batin, membentuk budi
pekerti, serta menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual.
3. Olah rasa
Sebagai proses pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan kepekaan
estetika, empati, dan kemampuan menghargai keindahan serta hubungan
antarmanusia.
4. Olah raga
Merupakan bagian dari pendidikan yang bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan fisik, kekuatan tubuh, serta membentuk karakter melalui kegiatan jasmani.
8 DIMENSI PROFIL LULUSAN DALAM PEMBELAJARAN MENDALAM
Keberhasilan Pembelajaran Mendalam diukur melalui
delapan dimensi profil lulusan yang menjadi standar kualitas pendidikan.
Berikut 8 dimensi profil lulusan :
1. Keimanan dan Ketakwaan terhadap
Tuhan YME
Pembelajaran Mendalam menekankan pentingnya nilai spiritual dalam
pendidikan. Peserta didik diarahkan untuk memiliki keimanan yang kuat dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kewargaan
Melalui Pembelajaran Mendalam, siswa diajarkan untuk menjadi warga negara
yang peduli, bertanggung jawab, dan aktif berkontribusi bagi lingkungan
sekitar.
3. Penalaran Kritis
Salah satu fokus utama Pembelajaran Mendalam adalah meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa agar mampu menganalisis masalah, mengevaluasi informasi,
dan menemukan solusi yang tepat.
4. Kreativitas
Pembelajaran Mendalam mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif
dalam menyelesaikan berbagai tantangan.
5. Kolaborasi
Melalui kegiatan kelompok dan proyek kolaboratif, siswa dilatih untuk
bekerja sama, berbagi peran, dan mencapai tujuan bersama.
6. Kemandirian
Pembelajaran Mendalam menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemampuan siswa
untuk belajar secara mandiri, tanpa ketergantungan yang berlebihan pada pihak
lain.
7. Kesehatan
Kesehatan fisik dan mental menjadi bagian penting dalam Pembelajaran
Mendalam. Keseimbangan antara akademis dan kesejahteraan siswa harus tetap
dijaga.
8. Komunikasi
Pembelajaran Mendalam melatih siswa untuk menguasai keterampilan komunikasi
yang efektif, baik secara lisan maupun tulisan, serta mampu mendengarkan dengan
baik.
DEEP LEARNING DALAM
PERSPEKTIF PEMBELAJARAN ISLAM
Deep learning dalam pembelajaran Islam tidak hanya berfokus pada hafalan atau
pemahaman tingkat dasar, tetapi lebih kepada pemahaman mendalam yang melibatkan
refleksi, analisis, dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa nilai
yang relevan dengan pembelajaran mendalam;
1.
Ta’ammul (Refleksi Mendalam)
Pembelajaran tidak hanya sekadar menghafal,
tetapi juga merenungkan makna dan hikmah di balik ilmu yang dipelajari. Contoh:
Dalam mempelajari Al- Qur’an, siswa tidak hanya membaca dan menghafal ayat,
tetapi juga merenungkan tafsir dan relevansinya dengan
kehidupan.
2.
Tafaqqur (Berpikir Kritis dan Analitis)
Islam mendorong umatnya untuk menggunakan
akal dalam memahami ilmu. Contoh: Ketika mempelajari hadis tentang akhlak,
siswa diajak untuk menganalisis bagaimana hadis tersebut dapat diterapkan dalam
kehidupan sosial saat ini.
3.
Tarbiyah Ruhaniyah (Pengembangan Spiritual dan Karakter)
Pembelajaran Islam bertujuan membentuk
manusia yang berakhlak mulia, bukan hanya cerdas secara intelektual.Islam
mendorong umatnya untuk menggunakan akal dalam memahami ilmu. Contoh: Saat
mempelajari fiqih, siswa tidak hanya memahami hukumhukum Islam tetapi juga
diajak untuk memahami nilai-nilai etika dan
moral dalam beribadah dan bermuamalah
4.
Ittiba’ dan Ijtihad (Belajar dari Sumber dan Mengembangkan Pemikiran Baru)
Deep learning dalam Islam menekankan keseimbangan antara mengikuti ilmu
dari sumber otentik (Al-Qur’an dan Hadis) dan berpikir kreatif dalam
mengembangkan solusi baru sesuai zaman. Contoh: Dalam mempelajari ekonomi
Islam, siswa diajak untuk mengembangkan model bisnis halal yang sesuai dengan
prinsip syariah tetapi tetap relevan dengan tantangan modern.
5.
Amal Ilmiah (Aplikasi Ilmu dalam Kehidupan Nyata)
Ilmu dalam Islam harus diamalkan, bukan sekadar dipelajari secara
teoritis. Contoh: Dalam mempelajari konsep zakat, siswa tidak hanya menghitung
kadar zakat tetapi juga melakukan praktik penghimpunan dan penyaluran zakat
kepada yang membutuhkan.
6.
Mujahadah (Belajar dengan Kesungguhan dan Konsistensi)
Pembelajaran Islam membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan perjuangan
dalam mencari ilmu. Contoh: Dalam belajar bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an,
siswa didorong untuk berlatih secara rutin dan tidak mudah menyerah meskipun
sulit.
7.
Pembelajaran Berbasis Kolaborasi (Syura dan Jama’ah)
Islam mengajarkan pentingnya belajar dalam kebersamaan dan berdiskusi untuk memperkaya pemahaman. Contoh: Dalam kajian tafsir Al- Qur’an, siswa diajak untuk berdiskusi dalam kelompok dan bertukar pendapat berdasarkan sumber yang valid.
REFLEKSI_MENJADI GURU
OTONOM
Menjadi guru otonom berarti memiliki komitmen untuk
mengenal dirinya sendiri. Ia menggali nilai-nilai moral yg dipegang teguh
sebagai landasan berpijak agar tidak terombang-ambing di tengah gelombang
ketidakpastian. Sebagai guru harus tegar, tidak menyerah pada arus kerumunan yg
hanya mengikuti instruksi tanpa pemikiran kritis, tetapi memiliki pendirian yang
kokoh. Kita mengerti bahwa, lebih dari sekadar dokumen-dolumen kurikulum,
kurikulum sejati adalah diri kita sendiri, bagaimana kita menghidupkan ilmu di
dalam kelas, memotivasi dan menginspirasi siswa kita, dan menanamkan nilai-nilai
kehidupan.
Di era di mana kebijakan bisa berubah kapan saja,
guru yang mandiri dan merdeka mampu berdiri teguh tanpa harus cemas akan
kelangsungan program-program pendidikan. Mereka tidak mengandalkan instruksi
sepenuhnya, melainkan mengambil inisiatif untuk menciptakan pembelajaran yang
bermakna. Sikap ini tidak alergi terhadap perubahan, tetapi justru
menjadikannya kesempatan untuk belajar, berkembang, dan memperkaya praktik
pengajaran.
Dengan mengenali dan memelihara nilai-nilai moral
dalam hidup kita, kita mampu menjalankan fungsi mulia guru : membimbing
& mendidik anak didik kita dengan penuh integritas. Guru yang merdeka
membawa martabat dalam peran kita, menjadi teladan bagi siswa dalam hal
keteguhan hati, keberanian berpikir, bertindak dengan tanggung jawab.
Marwah kita mulia bukan hanya melalui sertifikasi,
label-label pada diri kita atau program pemerintah, tetapi melalui dedikasi
dalam menjalankan fungsi kita dengan baik, menghadirkan pendidikan yg tidak
hanya sekadar penyampai informatif tetapi juga sebagai bagian dari
transformatif peradaban bangsa.
Selasa, 15 April 2025
Dunia Pendidikan membutuhkan _HERO
Sore ini kita merasa disentakkan oleh kenyataan yg sering kita abaikan. Kita mengikuti sebuah acara bincang psikologi yang menghadirkan Ibu Novi, Co-Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan di kanal Youtube. Temanya sederhana, namun sangat relevan dan dalam: “Menguak Fenomena Brain Root”.
Brain root,_ istilah ini merujuk pada akar² perkembangan otak yg terganggu. Akar yg seharusnya tumbuh kuat, tapi kini banyak yg rapuh. Salah satu penyebabnya adalah dunia digital, sosial media dengan algoritma yg tak pernah tidur. Algoritma yg membentuk apa yg anak² kita lihat, pikirkan, rasakan. Dunia yg seolah tanpa jeda, tapi juga minim kebermaknaan.
Lalu Bu Novi berkata sesuatu yg menghujam hati kita: “Dalam pendidikan hari ini, kita membutuhkan HERO.”
HERO =Hope, Empathy, Resilience, Optimism.
Dan saya merenung… anak² kita memang sedang sangat membutuhkannya.
1. Hope: harapan. Banyak anak datang ke sekolah bukan hanya membawa buku dan tas, tapi juga luka & lelah dari rumah, maupun dari lingkungan. Mereka butuh guru yg mampu berkata: “Kamu punya masa depan. Dan kamu pantas mendapatkannya.” Harapan sederhana itulah yg sering jadi bahan bakar mereka untuk mampu bertahan.
2. Empathy: empati. Anak² kita butuh didengar. Bukan dihakimi. Mereka butuh ruang aman untuk menceritakan kegelisahannya tanpa takut disalahkan. Mereka ingin dimengerti, bukan dikendalikan. Ketika kita mampu melihat dari mata murid, bukan hanya dari papan nilai, di sanalah empati tumbuh.
3. Resilience : ketangguhan. Dunia mereka penuh tekanan, perbandingan, kompetisi, dan ekspektasi. Mereka butuh orang dewasa yg menuntun, bukan membebani. Yang mengajarkan bahwa jatuh itu biasa, bangkit itu luar biasa. Dan bahwa gagal bukan akhir, tapi bagian dari proses.
4. Optimism: optimisme. Anak² kita harus percaya bahwa dunia ini masih layak diperjuangkan. Bahwa ada masa depan yg indah menunggu, selama mereka mau terus belajar & bertumbuh. Kita harus jadi cermin optimisme itu di hadapan mereka.
Ternyata... Semua itu… tidak harus dimulai dari panggung besar.
Cukup dari ruang² kelas kita. Kelas kecil, penuh cerita. Cukup dari membiasakan dialektika ruang² berbicara, berdiskusi, saling mendengar, saling memahami. Ruang di mana kita bukan dewa pengetahuan, tapi teman tumbuh yg setara.
Saat kita memberi waktu untuk mendengar pertanyaan mereka, merespon keresahan mereka, mengajak mereka berpikir bersama, di situlah kita sedang merawat akar.
Akar yg akan menjadikan mereka manusia seutuhnya.
Dan hari ini saya sadar… ketika kita membudayakan dialog yg manusiawi, ketika kita hadir utuh di depan mereka, ketika kita menjadi penyala harapan, empati, ketangguhan, dan optimisme, maka sebenarnya kita bukan hanya sedang berjuang menjadi guru. Tapi lebih dari itu… "KITA SEDANG BERJUANG MENJADI MANUSIA".
Rabu, 09 April 2025
AKU MASIH MURID
Biasanya... habis libur panjang Idul Fitri, kita kan minta anak² bikin refleksi. Tentang apa yang mereka pelajari selama liburan, nilai² yang mereka temukan dari silaturahmi, dari momen kebersamaan, meski dalam hal ini catatanya harus berhati² jangan sampai refleksinya jadi ajang lomba ini itu, yang penting adalah mengambil nilai² baiknya dari liburan kemarin.
Tapi kali ini... izinkan saya yg justru ingin berefleksi. Bukan sebagai guru, tapi sebagai murid. Murid kehidupan, murid dari guru saya sendiri.
Lebaran kemarin saya bersilaturahmi ke rumah guru saya waktu SMA dulu. Dan ternyata bukan cuma saya yg datang. Masih banyak murid2 beliau dari angkatan yang berbeda-beda juga hadir. Bahkan tidak hanya pas idul fitri, hari2 biasa kadang juga ada yang silaturahim kesana, murid² nya masih suka datang. Masih merasa butuh menyapa.
Dan itu bikin saya mikir... sosok seperti apa sih beliau sampai bisa begitu membekas di hati kami para muridnya?
Saya ingat betul, waktu beliau mengajar dulu... hampir nggak pernah marah. Bicaranya pelan, tenang, tapi dalam. Bahkan ketika kami salah, seperti salah menggunakan alat dilaboratorium, salah masang kaca mikroskop, salah prosedur praktik, beliau cuma tersenyum dan bilang, “Yang benar begini ya... Bisa kan? Yuk, jangan diulang lagi. Kamu pasti bisa.”
Gitu aja. Tapi rasanya... ngena banget. Kita nggak merasa dihakimi. Justru termotivasi.
Dan yg bikin saya makin hormat... beliau nggak pernah jaga jarak sama murid. Di luar kelas pun ngobrol bareng, becanda bareng, dengerin curhatan kami. Semua dihargai. Nggak ada istilah murid pintar dimanja, murid nakal dijauhi. Semua dianggap penting dimata beliau.
Saat saya sudah jadi guru dan sempat merasa down karena tugas² yg berat, beliau masih hadir. Menemani, menguatkan, bukan menyalahkan. Saya masih ingat kata-katanya, bukan petuah panjang lebar... tapi kehadiran beliau saja sudah cukup bikin saya merasa tidak sendiri.
Dan sekarang... saya merasa kecil. Saya merasa masih jauh dari menjadi guru sebaik beliau. Tapi silaturahmi kemarin jadi momen penting buat saya. Seolah saya sedang bercermin. Dan cermin itu memantulkan sosok guru yang saya ingin dan sedang belajar untuk menjadi guru yang lebih baik.
Terima kasih, Pak Guru. Terima kasih atas setiap senyum, setiap kata lembutmu, setiap kesabaranmu. Semoga semua kebaikanmu terus mengalir jadi pahala tanpa henti.
Saya masih murid, Pak. Murid yg sedang belajar menjadi guru sepertimu.
-----------
Sahabat2 guru_Semangat back to school_ Tetaplah menjadi guru yg menginspirasi & dirindukan 🙏
Rabu, 12 Maret 2025
Download Modul PAI & Bhs Arab
Download Modul melalui link di bawah ini sesuai dengan Bidang Studi:
1. Qur'an Hadits: https://drive.google.com/drive/folders/1ESoBiJ6_Ayv0bVRdbQj0Xj344VkpTXh0?usp=sharing
2. Guru Kelas RA: https://drive.google.com/drive/folders/1DG--0vSSSgxhAn9NHqr5j7IW8SnCIGiQ?usp=sharing
3. Akidah Akhlak: https://drive.google.com/drive/folders/1Cz0GUzJvOZoUhXCpMgX0rk_Loo2CtZBF?usp=sharing
4. PAI: https://drive.google.com/drive/folders/1DTkmW-cdDbBjTDsMbQy0oO1ER0M7DJcG?usp=sharing
5. Fikih: https://drive.google.com/drive/folders/1D0eYSNosIVZoYnqDCp86cQGE3HKwbTTp?usp=sharing
6. Bahasa Arab: https://drive.google.com/drive/folders/1EsaQjDQNdhR6ZZtZ0YpAe6hMs8Viz4CQ?usp=drive_link
7. Guru Kelas MI: https://drive.google.com/drive/folders/1GF5aGzQUO04f5_c0ucR8DVBMrlhO2KIU?usp=sharing
8. SKI: https://drive.google.com/drive/folders/1Eq3rf74KKHOgxGH2Q1r_rFQpWHm57Yl2?usp=sharing
Minggu, 22 Desember 2024
Teruslah 'Bodoh' Jangan Pintar
Teruslah bodoh Jangan Pintar adalah sebuah ungkapan yang mungkin terdengar aneh dan provokatif, tetapi sebenarnya mengandung kebijaksanaan yang dalam. Saya mendapatkan ungkapan tersebut adalah sebuah judul buku karya Tere Liye, yang isinya tentang keruskaan lingkungan dan berbagai konflik didalamnya. Saya mencoba meminjam ungkapan tersebut kedalam makna dinamika kehidupan. Dalam hidup ini, sering kali kita terjebak dalam keinginan untuk selalu terlihat pintar dan tahu segalanya. Namun, menjadi bodoh bukan berarti benar² tidak tahu apa², melainkan memiliki kerendahan hati untuk terus belajar & tidak pernah merasa puas dengan pengetahuan yg sudah dimiliki.
Orang yang "bodoh" dalam konteks ini selalu membuka diri terhadap pengalaman baru, ide² segar, dan perspektif berbeda yg mungkin terlewatkan oleh mereka yg merasa sudah pintar.
Dengan memelihara sikap ini, kita akan menemukan bahwa dunia ini penuh dengan keajaiban yg tidak pernah kita sadari sebelumnya. Teruslah bertanya, teruslah mencari, dan jangan pernah berhenti belajar. Hidup ini adalah perjalanan panjang yang dipenuhi dengan pelajaran yg tidak terduga, dan hanya mereka yg memiliki kerendahan hati untuk mengakui ketidaktahuannya yg akan menemukan kebijaksanaan sejati. Jadi, teruslah bodoh, dan biarkan keingintahuanmu yang tak pernah padam membimbingmu menuju pencerahan yg lebih besar.
DASYATNYA NARASI PENDIDIKAN
(Catatan Akhir Tahun 2024)
Ketika berdiskusi, menyuguhkan narasi seputar pendidikan sering kita mendengar kata-kata pesimis di media sosial atau grup WhatsApp, seperti "omon²" atau "gedabrus. Nah, yang menjadi fokus kita adalah seberapa dasyat urgensi narasi untuk proses menuju pendidikan yang lebih baik dalam konteks kehidupan berbangsa ?.
Narasi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jiwa yang menggerakkan visi dan misi suatu peradaban. Negara kita merdeka bukan hanya karena perjuangan fisik, tetapi juga karena kekuatan narasi yang digemakan oleh para pendiri bangsa. Bung Karno dengan "Indonesia Mengguncang Dunia", Bung Hatta dengan "Kemerdekaan untuk Kesejahteraan", dan Sutan Sjahrir dengan "Kemerdekaan dan Kemanusiaan" telah meletakkan dasar identitas bangsa merdeka yang bermartabat.
Namun, bagaimana dengan dunia pendidikan kita? Pendidikan seharusnya menjadi medan utama untuk menanamkan narasi besar bangsa. Sayangnya, kita sering melihat bahwa narasi pendidikan lebih banyak berganti istilah dan format daripada benar-benar membumi. Kurikulum berganti 12 kali, hingga yang terakhir, Kurikulum Merdeka, membawa narasi besar, tetapi mengapa ia terasa jauh dari realitas?
Narasi "Merdeka Belajar" adalah gagasan luar biasa yang mengandung spirit kemerdekaan, kemandirian, dan kebebasan berpikir. Namun, apakah nilai-nilai ini benar-benar terinternalisasi di setiap guru, siswa, dan sekolah? Ataukah kita masih terperangkap dalam birokrasi yang kaku, feodalisme, dan eksekusi yang manipulatif? Berapa banyak program yang hanya formalitas demi menyerap anggaran tanpa substansi yang menyentuh hati para pelaku pendidikan?
Hari ini, mari kita merenungkan: Seberapa kuat narasi pendidikan yang kita bawa? Apakah hanya formalitas, ataukah benar-benar menjadi akar kebijaksanaan? Sudahkah kita bebas dari feodalisme, kapitalisme, dan manipulasi, ataukah kita hanya berganti nama tanpa makna?
Pada akhirnya, peradaban bangsa ini tidak akan dibangun oleh anggaran besar atau program megah. Ia akan dibangun oleh narasi besar yang dijalani dengan sungguh-sungguh, yang tertanam dalam setiap guru, siswa, dan sekolah/madrasah. Narasi itulah yang akan membawa bangsa ini ke peradaban yang lebih tinggi, peradaban yang merdeka, mandiri, dan bermartabat.
Rabu, 06 November 2024
Menjadi Guru yang Otonom
*AKU GURU YANG OTONOM*
Mulyono, M.Pd.
Bapak Ibu guru yang budiman, di tengah dinamika dunia pendidikan yg terus berubah, kita dihadapkan pd tantangan yg tak hanya datang dari anak didik kita dan kurikulum, tetapi juga dari kebijakan & tren yg silih berganti degan cepat. Kita melihat dari perdebatan tentang kelanjutan UN hingga pertanyaan tentang perubahan kurikulum, & kekhawatiran akan keberlanjutan program² pendidikan yg sdng berjalan—semua ini kerap menguji keteguhan hati & arah diri kita sebagai guru. Namun, sejatinya, fitrah manusia, termasuk guru, adalah menjadi otonom. Sebagaimana dikatakan oleh para pakar, manusia dilahirkan dengn dorongan untuk mandiri, berpikir independen & mampu menentukan jalannya sendiri.
Menjadi guru otonom berarti memiliki komitmen untk mengenal dirinya sendiri. Ia menggali nilai² moral yg dipegang teguh sebagai landasan berpijak agar tidk terombang-ambing di tengah gelombang ketidakpastian. Sebagai guru harusnya tidak menyerah pd arus kerumunan yg hanya mengikuti instruksi tanpa pemikiran kritis, tetapi memiliki pendirian yg kokoh. Kita mengerti bahwa, lebih dari sekadar dokumen² kurikulum, kurikulum sejati adalah diri kita sendiri—bagaimana kita menghidupkan ilmu di dalam kelas, memotivasi dan menginspirasi siswa kita, dan menanamkan nilai² kehidupan.
Di era di mana kebijakan bisa berubah kapan saja, guru yang mandiri & merdeka mampu berdiri teguh tanpa harus cemas akan kelangsungan program² pendidikan. Mereka tidk mengandalkan instruksi sepenuhnya, melainkan mengambil inisiatif untk menciptakan pembelajaran yg bermakna. Sikap ini bukan berarti menolak perubahan, tetapi justru menjadikannya kesempatan untk belajar, berkembang, dan memperkaya praktik pengajaran.
Guru otonom memahami bahwa kritik adalah bagian dari perjalanan menuju perbaikan, bukan ancaman bagi marwah atau label² profesi kita.
Dengan mengenali & memelihara nilai² moral dalam hidup kita, kita mampu menjalankan fungsi mulia guru : membimbing & mendidik anak didik kita degan penuh integritas. Guru yg merdeka membawa martabat dalam peran kita, menjadi teladan bagi siswa dalam hal keteguhan hati, keberanian berpikir, bertindak dengan tanggung jawab.
Marwah kita mulia bukan hanya melalui sertifikasi, label² pada diri kita atau program pemerintah, tetapi melalui dedikasi dalam menjalankan fungsi kita dengan baik—menghadirkan pendidikan yg tidak hanya sekadar penyampai informatif tetapi juga sebagai bagian dari transformatif peradaban bangsa.
Mari kita renungkan bersama, sudahkah kita menjadi guru yang otonom dan merdeka?
Rabu, 21 Agustus 2024
AKEDITASI IA BAN PDM 2024
PERSIAPAN AKREDITASI 2024
INSTRUMEN AKREDITASI BAN-PDM TERBARU
Channel Youtube :
MULYONO CHANNEL SUPERVISOR
Info Seputar Persiapan Akreditasi_Instrumen Akreditasi BAN-PDM 2024
1. Sispena : Bukti Dikung Wajib dan DKA KLIK DISINI
2. Trik Membuat DKA KLIK DISINI
2. Bukti Kinerja Komponen 1 KLIK DISINI
3. Bukti Kinerja Komponen 2 KLIK DISINI
4. Bukti Kinerja Komponen 3 KLIK DISINI
5. Penjelasan Komponen 4 KLIK DISINI
6. Bukti Kinerja/ Bukti Dukung Minimal KLIK DISINI
7. Pra visistasi, Viistasi (Jadwal) dan Kartu Kinerja KLIK DISINI
Informasi ini sebuah Refrensi tentang Akreditaso 2024,
Silakan dikembangnya sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan masing-masing.
Tetap semangat kawan2 yang mempersiapkan akreditasi,
Semoga Allah Ta'ala memberikan kelancaran dan sukses sesuai harapan.
Salam Sehat, Semangat dan Bahagia.
Semoga Berkah & Bermanfaat.
Mulyono, M.Pd.
-
A. Deskripsi Singkat Mata pelatihan ini membahas tentang konsep Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), Alur Tujuan Pembelajar...
-
Yang masih anget dibeberapa warung-angkringan, kayaknya seru jadi bahan obrolan sambil minum Kopi, wedang jahe anget, sambil cocol pentol, t...
-
*AKU GURU YANG OTONOM* Mulyono, M.Pd. Bapak Ibu guru yang budiman, di tengah dinamika dunia pendidikan yg terus berubah, kita dihadapkan pd...






